Minggu, 02 Desember 2012

Kehebatan Pohon Mangrove


Pohon Mangrove/bakau
Akhir 2002, saya berlayar dari pelabuhan Tanjung Priok dengan tujuan Larantuka, Flores Timur, NTT. Saya sekamar dengan tiga penumpang lain, yaitu seorang pengusaha dengan tujuan Kalimantan Timur, seorang pendeta tujuan Makasar, dan seorang lagi dari Makasar yang baru pulang dari Tokyo diundang PBB atas keberhasilan petualangannya menanam pohon bakau atau mangrove di pantai Jeneponto . Dari Beliau, orang yang ketiga yang adalah seorang dosen, saya mendengar tentang kehebatan mangrove.

Pak dosen berasal dari Jeneponto, Sulawesi Selatan. Dijelaskannya bahwa Jeneponto berasal dari dua kata, yaitu jene artinya air, dan ponto artinya tersumbat. Jadi Jeneponto artinya Air Tersumbat. Karena ‘air tersumbat,’ maka tidak ada sumber air, sehingga daerah itu sangat kesulitan air. Dengan berbekal sedikit pengetahuan tentang pohon bakau, ia melakukan penanaman bakau seorang diri.


Beliau menanam pohon mangrove sepanjang sekitar 5 km di pesisir selatan pantai Jeneponto yang dijalankannya selama 2 tahun. Orang-orang menertawakannya dan mengatakan bahwa itu perbuatan yang sia-sia. Tetapi apa yang terjadi? Lima tahun kemudian sumber air kecil bermunculan dan orang mulai menggali sumur di mana-mans. Oleh pengalaman itu ia diundang PBB untuk mensharingkan keberhasilannya. Dari beliau saya mendengar jua tentang kehebatan lain dari bakau atau mangrove. (Akan disajikan dalam artikel yang lain).

Saya teringat di pantai barat pulau Lembata, dulu banyak ditumbuhi pohon bakau, tetapi semakin berkurang oleh abrasi dan penebangan serta pengrusakan oleh ulah manusia. Dan pada umumnya di pinggir hutan itu dapat digali sumur dengan kedalaman kurang dari satu meter. Bahkan tidak jauh dari SMP Ampera sumber air mengalir cukup deras, tetapi orang mungkin tidak menyadari bahwa munculnya sumber-sumber air adalah berkat ‘jasa’ dari hutan bakau.

Pohon bakau ternyata bukan pengganggu keindahan pantai tetapi justru sangat berguna bagi manusia, kelestarian alam, dan habitat berbagai biota laut dan margasatwa lain. Terimakasih Pak Dosen, informasi yang sangat berguna. Saya bertekad meneruskannya!

Ketika di Makasar tidak ada penumpang lain di dalam kamar, saya keluar mencari kawan dan bergabung dengan penumpang dari Lembata. Bapak Simon Huar Noning berasal dari Watuwawer dan waktu itu sudah menetap di Waiteba, dan bapak Petrus Matarau dari Muraone, Ile Ape. Kedua beliau ini sangat bersemangat menceritakan keberhasilan usahanya masing-masing. Bapak Simon bercerita tentang keberhasilannya membuat sirup dari buah semu jambu mete dan pemeliharaan rumput laut. 

Sedangkan pak Petrus bercerita tentang pembuatan batu bata, kelompok nelayan dan penanaman rumput laut. Dan saya sendiri memasukkan konsep manfaat bakau. Sangat asyik berlayar dengan orang-orang yang kaya pengalaman. Dan di dalam hati saya tumbuh keyakinan bahwa bekerjasama dengan mereka yang berjiwa memelihara seperti itu, sebuah pulau dapat diselamatkan dengan menanam bakau atau mangrove.   


***

1 komentar:

  1. Terimakasih atas tulisan yang sudah saudara buat, karena ini sangat bermanfaat bagi saya. Kunjung balik ya....

    BalasHapus